Catatan harianku tentang Sepak bola
2007-01-12Saya pernah menggilai permainan sepak bola. Di sekolah dasar hampir tiap jam istirahat saya dan teman-teman bermain bola di sebelah kuburan yang sekarang berganti menjadi masjid. Pulang sekolah tak ada istilah tidur siang kembali bermain berpanas-panasan di luar, bermain ke sawah, bermain layang-layang, nyirung dan lain-lainnya yang intinya adalah bermain air, tanah dan api. Jelang sore hari juga tak luput bermain bola di ladang tomat yang menganggur dekat rumah. Bola yang dipakai adalah bola plastik, yang jika bocor ditendang maka permainan bubar dan berharap esok hari ada yang kembali membeli bola plastik lagi. Kadang ada pula bola karet yang sering disebut bola gembling. Dan bola sungguhan –yang sering disebut bola bliter– jarang dimainkan karena cukup mahal harganya. Tak lupa bola kecil dari bata merah yang direndam minyak tanah lalu dibakar dan dimainkan di jalan aspal selepas subuh di bulan puasa sebelum matahari muncul dan membuat nyala api bola sudah tidak menarik dilihat.
Siaran pertandingan sepak bola di televisi kala itu hanya Liga Divisi Utama PSSI dan rekaman Liga Eropa di TVRI yang mungkin hanya seminggu sekali di malam hari serta babak-babak final Piala Dunia.
Menginjak SMP permainan sepak bola saya mainkan di lapangan yang lebih luas bersama teman bermain satu RT, hampir setiap hari, di lapangan sepak bola Kalapa Nunggal (di pinggir lapangan bercokol tumbuh sebatang pohon kelapa) yang akhirnya digusur menjadi Pusdiklatpos. Tiap Minggu sore di lapangan tersebut diadakan pertandingan persahabatan antar klub, selain di kalangan remaja sedang gegarnya Domba Cup di mana-mana.
Menginjak SMA bermain sepak bola semakin sulit. Untungnya kampus Politeknik ITB (sekarang Politeknik Bandung) memiliki halaman rumput yang luas, termasuk lapangan olahraga lainnya seperti basket dan bola voli. Meskipun harus berjalan terlebih dahulu sepanjang 1, 5km dan meloncati bebatuan kali sebagai jalan pintas, sepak bola tetap dilakukan hingga menjelang turunnya matahari. Jika sedang bosan bermain sepak bola saya pindah ke lapangan basket atau voli.
Menginjak kuliah saya masih merasakan bermain sepak bola di lapangan tengah kampus sebelum menjadi gedung Labtek V, VI, VII dan VIII. Setelah itu saya kehilangan tempat untuk bermain sepak bola. Sedih, sesedih Iwan Fals melantunkan bait lagu “Mereka Ada di Jalan”.
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita di sini
Di jalan ini
Sejak saat itu saya tak lagi mengamati persepakbolaan atau bermain sepak bola. Apalagi ditambah semakin seringnya televisi menyiarkan –siaran langsung malah!– pertandingan sepak bola, bahkan hampir tiap hari. Saya cape.
-
• Filed under: Free
- RSS for comments | Trackback(24)|
(0) - Comment(34)